Rabu, 01 Mei 2013

Hubungan Psikologi Sosial Dengan Situasi Belajar mengajar


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada umumnya para Mahasiswa banyak mengalami masalah cara belajar, disamping masalah-masalah lain yang menyangkut keadaan jasmani, keadaan keuangan dan sebagainya.
Kita mengetahui bahwa belajar di Perguruan Tinggi adalah suatu usaha yang berat. Ilmu yang diterima dari meja kuliah atau hasil penelitian tidak mungkin dimiliki dengan usaha yang ringan dan singkat. Karena itu Mahasiswa harus mengatur waktu dengan baik untuk belajar, harus mengikuti kuliah secara tertib, membaca buku pengetahuan, dan lain-lain.
Pendeknya Mahasiswa mencurahkan pikiran, perhatian dan keuletan bertahun-tahun apabila ingin menjadi sarjana yang baik. Banyak mahasiswa telah belajar giat, tetapi usaha itu tidak memberikan hasil yang diharapkan. Sebab bekerja keras saja belum tentu menjamin seseorang akan lulus dalam ujian. Disamping bekerja giat dan tekun diperlukan pula teknik belajar yang baik. Teknik belajar yang baik inilah yang harus dikenal, difahami dan dipraktekkan oleh setiap Mahasiswa agar studinya berhasil. Tanpa teknik belajar yang baik sulitlah bagi seorang Mahasiswa untuk mengikuti kuliah dengan baik dan sukses. Baik pelajar maupun Mahasiswa usaha belajar harus dlakukan dengan sungguh-sungguh, tidak boleh bermalas-malasan, melainkan harus rajin dan tekun terus-menerus.
Oleh karena itu, berdasarkan uraian latar belakang diatas, untuk membantu para Mahasiswa dalam belajar, Penulis tertarik untuk menulis sebuah makalah yang penulis beri judul “Hubungan Psikologi Sosial Dengan Situasi Belajar mengajar”. Dibawah ini akan penulis sampaikan pembahasannya.
B.     Rumusan Masalah
Adapun Rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud dengan belajar ?
2.      Apakah masalah-masalah yang dialami para mahasiswa mengenai cara belajar ?
3.      Apakah factor-faktor kesulitan dalam belajar ?
4.      Bagaimanakah cara-cara belajar yang baik ?
5.      Apa saja pedoman umum untuk belajar ?
C.    Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Agar kita mengetahui pengertian belajar, alat perlengkapan belajar serta persiapan-persiapan dalam belajar.
2.      Agar kita mengetahui masalah-masalah yang dialami Mahasiswa.
3.      Agar kita mengetahui factor-faktor kesulitan dalam belajar.
4.      Agar kita mengetahui cara-cara belajar yang baik.
5.      Agar kita mengetahui pedoman umum untuk belajar.












BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN BELAJAR
Suatu pendapat mengatakan bahwa belajar adalah kegiatan fisik atau badaniyah. hasil yang dicapai adalah serupa perubahan-perubahan dalam fisik itu, misalnya : dapat berlari, mengendarai mobil dan sebagainya.
Sebaliknya pendapat lain mengatakan bahwa belajar adalah kegiatan rohaniah. Hasil belajar yang dicapai adalah perubahan-perubahan dalam jiwa seperti memperoleh pengertian tentang bahasa dan sebagainya.
Ahli Pendidikan modern merumuskan perbuatan belajar sebagai berikut : Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.
Dari definisi diatas dapatlah diambil kesimpulan bahwa Belajar adalah proses perubahan di dalam diri manusia. Apabila setelah belajar tidak terjadi perubahan dalam diri manusia, maka tidaklah dapat dikatakan bahwa padanya telah berlangsung proses belajar.
1.      Teori-teori Tentang Proses Belajar
Untuk mengetahui teori-teori belajar yang dikemukakan para ahli psikologi, akan dikemukakan dalam pembahasan berikut :
a.      Teori Belajar Menurut Ilmu Jiwa Daya
Teori ini mengemukakan bahwa jiwa manusia mempunyai daya. Daya-daya ini adalah kekuatan yang tersedia dan manusia hanya memanfaatkan semua daya itu dengan cara melatihnya. Daya-daya itu misalnya daya mengenal, daya mengingat, daya berfikir dan sebagainya.
Pengaruh teori ini dalam belajar adalah ilmu pengetahuan yang bersifat hafalan-hafalan belaka dan penguasaannya biasanya jauh dari pengertian. Oleh karena itu, para ahli ilmu jiwa daya menyatakan bahwa bila ingin berhasil dalam belajar, latihlah semua daya yang ada didalam diri.
b.      Teori  Belajar Menurut Ilmu Jiwa Asosiasi
Teori ini disebut juga sarbond. Sarbond Singkatan dari Stimulus (rangsangan), Respons (tanggapan) dan Bond (dihubungkan). Rangsangan diciptakan untuk memunculkan tanggapan kemudian keduanya dihubungkan.
Teori asosiasi ini berprinsip bahwa keseluruhan itu sebenarnya terdiri dari penjumlahan bagian-bagian atau unsur-unsurnya.
Dari aliran ilmu jiwa asosiasi ada dua teori yang sangat terkenal, yaitu teori Konektionisme dan teori Conditioning, yaitu ;

1)      Teori Konektionisme
Menurut teori belajar adalah asosiasi antara kesan panca indra dengan implus untuk bertindak. Asosiasi dinamakan korektion sama maknanya dengan bertindak. Asosiasi dinamakan korektion dan respons, antara aksi dan reaksi dan antara keduanya terjadi suatu hubungan yang erat bila sering dilatih.
Proses belajar menurut teori ini melalui proses trial and error (mencoba-coba dan mengalami kegagalan) dan law of effect, yaitu segala tingkah laku yang berakibat suatu keadaan yang memuskan akan diingat dan dipelajari dengan sebaik-baiknya.
2)      Teori Conditioning
a)      Teori Classical Conditioning (Pavlov dan Watson), menurut teori ini belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan reaksi (response) yang kemudian menimbulkan reaksi (response). Dan untuk menjadikan seseoang itu belajar haruslah memberikan syarat-syarat tertentu dan adanya latihan-latihan yang kontinu.
b)      Teori contidioning (Guthrie), Guthrie mengemukakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai deretan-deretan tingkah laku yang terdiri dari unit-unit yang merupakan respon dari stimulus sebelumnya dan unit tersebut menjadi pula stimulus yang kemudian menimbulkan respon bagi unit tingkah laku berikutnya. Sehingga pada proses conditioning ini pada umumnya terjadi proses asosiasi antara unit satu sama lain yang berurutan dan berkali-kali/berulang-ulang yang memperkuat asosiasi antar unit tingkah laku.
c)      Teori Systematic Behavior (Hull), Chark C.Hull mengemukakan bahwa suatu kebutuhan atau keadaan terdorong oleh motif, tujuan, maksud, aspirasi, ambisi harus ada dalam diri seseorang yang belajar, sebelum suatu respon dapat diperkuat atas dasar pengurangan kebutuhan itu.
Dan dua hal yang penting dalam proses belajar ialah adanya motivasi intensif dan pengurangan stimulus pendorong.
c.       Teori Belajar Menurut Ilmu Jiwa Gestalt
Teori ini berpandangan bahwa keseluruhan lebih penting dari bagian-bagian, sebab keberadaan bagian-bagian itu didahului oleh keseluruhan. Hal yang terpenting menurut teori ini adalah penyesuaian pertama, yaitu mendapatkan respons atau tanggapan yang tepat. Adapun prinsip-prinsip teori gestalt adalah :
1)      Belajar berdasarkan keseluruhan
2)      Belajar adalah suatu proses perkembangan
3)      Anak didik sebagai organisme keseluruhan
4)      Terjadi transfer
5)      Belajar adalah reorganisme keseluruhan
6)      Belajar harus dengan instight
7)      Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan dan tujuan.
2.      Beberapa Prinsip Belajar
Tentu saja kita menginginkan agar perubahan yang terjadi dalam diri kita adalah perubahan yang berebcana dan bertujuan. Kita belajar dengan suatu tujuan yang lebih dulu kita tetapkan. Beberapa Prinsip Belajar adalah sebagai berikut :
1.      Belajar harus bertujuan dan terarah
2.      Belajar memerlukan bimbingan
3.      Belajar memerlukan pemahaman atas hal-hal yang dipelajari sehingga diperoleh pengertian-pengertian.
4.      Belajar memerlukan latihan dan ulangan agar apa-apa yang telah dipelajari dapat dikuasai.
5.      Belajar adalah suatu proses aktif dimana terjadi saling prngaruh secara dinamis antara murid dengan lingkungannya.
6.      Belajar harus disertai keinginan dan kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan
7.      Belajar dianggap berhasil apabila telah sanggup menerapkan kedalam bidang praktek sehari-hari.

B.     CARA MENGATASI KESULITAN BELAJAR MENGAJAR
Banyak hal yang menjadi faktor yang menyebabkan manusia sulit dalam belajar. Drs. H. Abu (Ahmadi, 2007:259) mengatakan, “ Banyak hal-hal atau hambatan yang menyebabkannya, tetapi pada pokoknya dapat digolongkan menjadi dua faktor, yaitu:
1)      Faktor indogin, ialah faktor yang dating dari diri pelajar atau mahasiswa itu sendiri. Faktor ini meliputi:
*      Faktor biologis (fakror yang bersifat jasmaniah).
*      Faktor psikologis (faktor yang bersifat rohaniah).
2)      Faktor exogin, ialah faktor yang dating dari luar pelajar atau mahasiswa. Faktor ini meliputi:
*      Faktor lingkungan keluarga
*      Faktor lingkungan sekolah
*      Faktor lingkungan masyarakat”.
1.      Faktor Indogin
a.       Faktor Biologis
Faktor biologis ialah faktor yang berhubungan dengan jasmani anak/pelajar atau mahasiswa. Faktor ini misalnya :
1)      Kesehatan
Kesehatan sangat berpengaruh dalam belajar. Kesehatan yang terganggu oleh berbagai sebab dapat mengurangi konsenterasi dan semangat dalam belajar. Faktor ini tak dapat ditolak dalam diri menusia, kadangkala manusia itu sehat dan kadang kala manusia itu sakit. Apabila kesehatan kita terganggu ada kalanya kita untuk istirahat sejenak, dan belajar yang ringan-ringan saja. Agar kesehatan pulih kembali.
Menjaga kesehatan itu penting. Hidup teratur, polamakan yang sehat, gizi seimbang dan tempat yang rapi lagi bersih. Dengan demikian dapat mengurangi dampak buruk terhadap kesehatan kita. Memang kelihatannya kesehatan itu sepele, namun itu sangatlah penting untuk terus kita jaga.
2)      Cacat Badan
Cacat badan, sering membuat orang merasa minder, kurang percaya diri. Hal itu dapat disebabkan oleh beberapa faktor, sering diejek temannya misalnya, atau sering direndahkan karna dia cacat. Maka dari itu, tidaklah pantas bagi seorang guru mengatakan seorang anak itu bodoh, atau yang sejenisnya. Hal itu akan menjadikan anak trauma dan serba salah.
Perlu kita sadari, bahwa pada dasarnya manusia itu sama. Sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan. Hanya saja kita kurang memiliki komitmen dalam hidup kita. Pada akhirnya kita tidak pernah tahu tentang diri kita yang sebenarnya. Kaya dan miskin, sehat dan sakit, cacat dan sempurna, hanyalah bagian dari ujian kita sebagai manusia. Jangan pernah hiraukan itu, terus pada komitmen yang sesungguhnya, dari situ kita akan mampu merangkul dunia.
b.      Faktor Psikologis
1)      Intelegensi
Faktor intelegensi memang juga dapat menjadi suatu faktor penyebab dalam belajar. Orang rang memiliki intelegensi yang tinggi biasanya lebih cepat dalam menangkap suatu ilmu. Begitu pula sebaliknya, orang yang rendah daya intelegensinya biasanya lambat dalam menangkap suatu ilmu.
Namun, cepat dan lambat itu hanyalah sebuah proses. Cepat namun tidak tepat apalah artinya. Hal itu dapat diibaratkan dua buah kendaraan, yang satu berkapasitas 100cc, dan yang satu 200cc. Namun yang 200cc mesinnya rusak karena tidak pernah terawat, dan yang 100cc mesinnya selalu bagus karena selalu terawat. Maka yang lebih cepat sampai adalah yang 100cc, karena tidak pernah macet.
Jadi, berapapun kapasitas otak kita janganlah dijadikan suatu persoalan yang rumit. Sesuatu yang terpenting adalah terus giat berlatih. Mengertilah dengan kemampuan kita masing-masing, walaupun lambat, tetapi juga sama-sama dapat. Mungkin Tuhan tugaskan yang lain untuk kita.
2)      Perhatian
Perhatian membuat orang merasa dihargai. Perhatian dapat menjadikan seseorang memiliki semangat yang tinggi, atau bahkan membuat diri merasa hebat dan pada akhirnya perhatian itu disalah artikan. Kurang adanya perhatian juga juga dapat membuat seseorang merasa ingin bangkit dan membuktikan kebenaran-kebenaran untuk membuat semua orang bangga terhadap dirinya, namun bisa juga berakibat fatal dalam diri seseorang karena tak dianggap, akhirnya semangat manusia menjadi lemah.
Perhatian perlu diberikan, namun dengan batas-batas keadilan. Jangan terlalu berlebihan, kita perlu melihat lebih jauh kapasitas kejiwaan seseorang. Melihat sisi baik dan buruk sesudahnya.
3)      Minat
Minat itu timbul karena adanya niat. Dengan adanaya niat manusia menumbuhkan semangat dalam dirinya, bercita-cita, dan berkreasi, berupaya keras untuk menggapai yang dia ingini.
Kita perlu membubuhi cinta di dalam hatinya. Dengan cinta, aka nada usaha. Setelah kita mampu memegang hati seseorang, maka semakin mudah semangat itu berkembang di dalam dirinya.
Bila seseorang itu memiliki minat, maka arahkanlah dirinya. Salurkanlah, jangan sampai minat itu hilang. Hilangnya minat dapat membuat hilangnya sebuah semangat. Pada akhirnya kekecewaan tumbuh dalam hatinya, dan membuat ia tak mau lagi berusaha.
4)      Bakat
Setiap manusia memiliki bakat masing-masing yang tidak bisa ditumbuhkan. Tumbuhnya bakat secara alami, dibawa sejak ia terlahir. Bakat inilah yang menjadi kelebihan atas diri manusia. Bakat dapat dijadikan suatu petunjuk dalam melangkah. Hal itu perlu dikembangkan, karena hal itu akan sangat berguna di hari depan. Sesuatu hal yang terpenting adalah, teruslah berlatih, dengan berlatih akan menjadi tajam.
5)      Emosi
Emosi dapat menjadi sesuatu yang baik dan kadang bisa membawa keburukan dalam diri manusia. Emosi yang baik adalah semangat yang terus memacu jiwa seseorang untuk melihat kedepan dan berfikir positif. Sedang emosi yang buruk adalah yang membuat diri seseorang untuk tidak mau mengerti orang lain bahkan dirinya sendiri.
Kestabilan emosi sangatlah perlu dijaga. Menjaga emosi untuk tetap stabil tidaklah mudah. Perlu adanya kesadaran diri untuk tahu kelemahan dan sesuatu yang memperkuat emosi. Misalnya, kita marah dalam posisi duduk, kemudian kita berdiri, sambil menghela nafas. Atau sedikit menjauh dari faktor yang menyebabkan marah. Nasehat sangat diperlukan dalam diri manusia, nasehat adalah ingatan yang dapan membuat kita ingat sewaktu marah.
2.      Faktor Exogin
a.      Lingkungan Keluarga
1)      Faktor orang tua, dukungan orang tua sangat diperlukan oleh anak, yaitu dengan terus memberikan semangat kepadanya. Orang tua adalah yang terdekat. Kontak batin seseorang terletak pada orang tua, terutama pada ibunya. Kadang langkah yang baik dan tepat harus terhenti karena orang tua tidak mengizinkan. Maka sebagai orang tua haruslah mau bersikap deokratis terhadap anak. Berikan kesempatan buatnya untuk berdikari sesuai dengan kemampuan yang dia miliki.
2)      Faktor suasana rumah, karena keluarga adalah yang paling sering dijumpai sang anak, maka suasana keluarga pun menjadikan suatu faktor bagi sang anak dalam belajar. Suasana rumah yang kacau, ayah dan ibu yang sering rebut misalnya, dapat mempengaruhi psikolohis anak. Anak menjadi malas belajar, dan pelampiasan sering dilakukan diluar rumah, seperti tawuran, dan sejenisnya. Suasana rumah dapat menjadikan contoh bagi sang anak.  Untuk itu orang tua perlu menjaga keharmonisan dalam berumah tangga. Dengan adanya keharmonisan akan membuat anak merasa nyaman dalam melakukan berbagai tindakan. Namun terjadinya suatu masalah dirumah juga tak dapat kita pungkiri. Bila itu terjadi, maka faktor teman menjadi sesuatu yang mendasar bagi anak. Kita perlu memberikan banyak nasehat padanya. Jangan sampai suatu kejadian membutnya trauma dan pada akhirnya berputus asa dalam melangkah.
3)      Faktor ekonomi keluarga, Rezeki bukan manusia yang mengatur. Manusia tidak bisa memaksakan seseorang untuk mampu. Namun, ekonomi yang pas-pas-an juga bukan suatu penghambat untuk dapat belajar. Sebagai manusia yang telah diberikan kelebihan dibandingkan yang lain. Perlulah kita untuk membantu mereka yang kurang mampu. Pemerintah juga perlu mendukung mereka. Berikan perhatian pada mmereka, agar terus bersemangat. Belajar untuk semua, semua berhak atas ilmu.
b.      Lingkungan Sekolah
1)      Penyajian materi, Penyajian materi menjadi faktor dalam kemajuan berfikir siswa. Karena materi yang disampaikan, menjadi tolak ukur manusia dalam belajar. Maka seorang guru haruslah seoptimal mungkin dalam penyampaian materi terhadap siswa.
2)      Hubungan guru dengan murid, Seorang guru haruslah sebisa mungkin menumbuhkan rasa kecintaan siswanya. Jadikan suasana yang harmonis dalam belajar. Dengan itu ilmu akan lebih mudah diserap oleh murid-murid kita.
3)      Materi, Materi adalah acuan siswa dalam belajar. Maka seorang guru harus mampu menjelaskan agar siswa dapat mengerti terhadap materi yang disampaikan.
4)      Sarana dan prasaran, Sarana dan prasarana sangat diperlukan dalam kegiatan belajar agar terasa nyaman. Suasana yang nyaman dapat membuat kita lebih mudah dalam berkarya, yakni dengan sarana dan prasarana yang lengkap dan memadahi. Namun, hal itu juga bukan menjadi tolak ukur bagi siswa dalam belajar, melainkan sebuah tambahan, untuk memacu suatu kegiatan belajar.
5)      Suasana belajar, Seperti yang telah disebutkan di atas. Suasana yang baik akan menjadikan nyaman dalam belajar. Jadikanlah tempat belajar senyaman mungkin, dengan itu akan mempermudah dalam prosesnya.
c.       Lingkungan masyarakat
1)      Mass-media, Tidak kemungkinan terjadi, mars-media menjadi suatu faktor belajar. Mars media juga dapat membawa dampak baik dan juga buruk terhadap perkembangan belajar terutama pendididkan. Dampak buruk, misalnya dengan adanya penyebaran pornografi, dan sejenisnya akan merusak otak manusia dan menjadikan tidak baik dalam belajar. Namun, mars-media juga dapat memberikan dampak yang positif, misalnya dengan adanya berita, para perlajar akan menambah wawasan ilmu pengetahuannya.
2)      Teman bergaul, Teman bergaul menjadi pengaruh besar terhadap perkembangan anak. Maka dari itu, pandai-pandailah memilih teman, dan orang tua sangat perlu mengawasi dan mengarahkan atas perkembangan yang terjadi.
3)      Kegiatan-kegiatan masyarakat, Kegiatan masyarakat kadang kala menjadikan support bagi anak. Namun, bisa juga membawa dampak buruk bagi sang anak. Misalnya sang anak yang tidak bisa membagi waktu atau yang tidak bisa dibebani oleh berbagai beban, maka lebih baik menghindari kegiatan tersebut. Kegiatan tersebut belum dilakukan olehnya. Lain halnya dengan orang yang bisa mengatasi berbagai masalah dan mengatur waktunya dengan baik. Kegiatan itu bisa menjadikan supor baginya.
4)      Corak kehidupan tetangga, Corak kehidupan tetangga bisa menjadi pendukung terhadap perkembangan anak. Karena tetangga adalah orang yang dekat yang sering dijumpai setelah keluarga. Lingkungan yang baik menjadikan dia memacu diri untuk menjadi tang baik, lingkungan yang buruk dapat membawa seseorang dalam jurang kenistaan.
C.    PELAJARAN DAN WATAK
Belajar bukan saja soal “Know How”, melainkan juga sikap hidup dan watak. Banyak orang yang berpembawaan, namun tak pernah mencapai sesuatu, karena mereka enggan melatih diri dalam sifat-sifat watak yang tertentu. Jika kita hendak belajar, maka kita memerlukan sifat-sifat watak tertentu.
1.      Kerajinan dan Ketekunan
2.      Kesabaran
3.      Kesetiaan (tidak terburu-buru)
4.      Keberanian (keberanian berpendapat, mengoreksi pendapat orang lain, menlakukan penyelidikan secara luas dan mendalam.
5.      Kejujuran dan Ketelitian
D.    LIMA HUBUNGAN DALAM APLIKASI PSIKOLOGI SOSIAL DALAM SITUASI BELAJAR MENGAJAR
Ada lima hubungan dalam aplikasi Psikologi Sosial dalam situasi belajar mengajar , yaitu :
1.      Getzels dan Thelen
Pada tahun 1960 Getzels dan Thelen menulis tentang aplikasi Psikologi Sosial terhadap situasi belajar mengajar. Model yang mereka kembangkan berguna dalam mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku belajar di kelas. Pendekatannya didasarkan pada pengujian tingkah laku individual di dalam hubungan kelompok. Kelompok kelas ini dilihat. tujuannya, peserta atau anggotanya, kepemimpinannya, hubungannya terhadap kelompok lain, sebagai satu cara yang penting untuk menyelidiki bagaimana kelas sebagai suatu kelompok mempengaruhi tingkah laku anggotanya. Di samping itu cara ini dikembangkan untuk melukiskan bahwa kelompok kelas merupakan sistem sosial yang terdiri dari faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku seseorang.
Getzels dan Thelen mengajukan model sebagai berikut :
B = f (R x P)
Keterangan :
B   = tingkah laku yang diamati
R   = pengharapan peranan dalam satu situasi
P    = personality atau kepribadian individu yang dibatasi  oleh kebutuhan.
Lembaga kelompok berfungsi mengembangkan “peranan”, dan “peranan” membatasi tingkah laku yang diharapkan. Demikianlah, maka peranan guru adalah meyakinkan murid dalam memperoleh pengetahuan, dan peranan murid adalah menunjukkan bukti belajar. Kepribadian individu ditunjukkan kepada dimensi pribadi dari sistem sosial.
Setiap individu membawa kebutuhan ke dalam situasi yang mempengaruhi tingkah lakunya. Secara bersama-sama, kebutuhan individu dan pengharapan peranan berinteraksi, setiap kegiatan merupakan motif untuk tingkah lakunya.
Konsep yang dikembangkan oleh Getzels dan Thelen ini khususnya berguna di dalam mengorganisasi pengaruh sosiologis dari tingkah laku individu di dalam suatu kelompok kelas. Mereka menunjukkan bagaimana kepribadian saling berhubungan dengan pengaruh lembaga atau institusi. Kuatnya model ini adalah pada dinamika perubahan sistem sosial yang mempengaruhi tingkah laku dan organisasi dari banyak faktor yang membantu proses ini. Langkah berikut dari analisa ini adalah menguji bagaimana ciri-ciri organisasi sekolah mempengaruhi pengharapan peranan, bagaimana suasana kelompok atau lingkungan mempengaruhi tipe pengharapan peranan dan kebutuhan individu yang penting bagi pelajar di dalam menerangkan tingkah laku.


2.      Brookover
Wilbur Bookover dan Edsel Erickson mengembangkan konsep psikologi sosial formal tentang belajar yang pertama. Teorinya berdasarkan pada suatu anggapan umum bahwa banyak dari kegiatan belajar tergantung pada keputusan untuk belajar, dan ini adalah proses Psikologi Sosial dalam pembuatan keputusan yang membentuk dasar teori ini.
Ada 3 (tiga) dasar teori :
a.       Tingkah laku pengambilan keputusan yang disengaja adalah fungsi dari hasil pengamatan kegiatan sosial adalah fungsi dari hasil pengamatan kegiatan sosial.
b.      Hasil pengamatan kegiatan sosial berbeda dari hasil yang diingingkan, sebagai faktor pembuatan keputusan. Meskipun aspirasi dan rencana dalam waktu yang sama bisa sama untuk seorang individu, cognisi dan afekssi ini akan menjadi berbeda di dalam isi dan fungsinya.
c.       Jika tingkah laku yang disengaja adalah fungsi dari aspirasi, aspirasi ini cenderung mempengaruhi seseorang mengenai harapan yang bisa terjadi untuk masa yang akan datang.
Brookover dan Erickson tidak percaya bahwa keputusan pelajar secara keseluruhan menentukan kemampuan akademiknya, tetapi mereka percaya bahwa hadirnya kemauan atau kehendak pada saat seseorang membuat keputusan berarti membantu penampilan akademik.
Berdasarkan pada anggapan bahwa keputusanlah yang memutuskan untuk belajar, Brookover dan Erickson kembali kepada faktor yang mempengaruhi keputusan pelajar.
Di dalam menganalisa proses pembuatan keputusan teori ini menitikberatkan pada interaksi antar pribadi dan persepsi dirinya melalui interaksi. Keputusan didasarkan pada bagaimana kita melihat respon dan tingkah laku orang lain. Sebagai individu yang mengamati respon orang lain yang kemudian mempengaruhi tingkah lakunya, secara berangsur-angsur konsep dirinya berkembang. Konsep diri ini oleh para pendidik digunakan untuk melukiskan bagaimana dan apa yang dipikirkan oleh pelajar tentang diri mereka sendiri. Agak disayangkan banyak pendidik beranggapan bahwa konsep diri ini sebagai kondisi yang statis. Brookover menyebutnya sebagai satu proses tingkah laku, proses kognitif dimana seseorang bertingkah laku dalam situasi tertentu.
Brookover dan Erickson mengidentifikasikan adanya 4 (empat) faktor utama yang mempengaruhi bagaimana interaksi antar pribadi membentuk konsep diri, dan akhirnya, proses pembuatan keputusan itu menentukan tingkah laku :
a.      Keperluan peranan untuk diri sendiri.
Dalam hampir semua situasi kita mengembangkan satu “peranan” untuk melukiskan tingkah laku lainnya yang diharapkan dari kita.
Peranan yang kita kembangkan untuk kita sendiri mendasari proses pembuatan keputusan.
b.      Konsep diri tentang kecakapan
Menunjuk kepada kecakapan seseorang dalam mengamati untuk melakukan peranannya. Bila seseorang merasa mampu untuk berhasil didalam tugas-tugas yang sesuai dengan peranannya, kemungkinan memutuskan untuk menyelesaikan tugas itu menjadi berhasil.
Tetapi perlu diingat bahwa konsep diri tentang kecakapan ini meskipun tinggi belumlah merupakan kondisi yang cukup untuk menjamin keberhasilan tingkah laku.
c.       Nilai instrumental diri
Ini menunjukkan kepada pengamatan seseorang atas perhitungan untung rugi yang dihubungkan dengan penampilan dan peranannya.
d.      Nilai intrinsik dirinya
Kepuasan dalam satu tingkah laku, tanpa memperhatikan konsekuensi sosial dan ekonomik.
Beberapa pelajar menempatkan satu nilai yang tinggi pada membaca, di mana yang lain tidak menempatkan nilai yang tinggi pada membaca.
Secara singkat model Brookover dan Erickson mengorganisasi kekuatan psikologi sosial yang mempengaruhi tingkah laku belajar. Tingkah laku tergantung pada proses cognitif dari pembuatan keputusan. Keputusan ini ditentukan oleh luasnya lingkungan yang mempengaruhi diri seseorang individu dalam hubungannya dengan satu peranan.
Faktor lain juga mempengaruhi cognisi atau pengamatan ini, misalnya nilai internal dan eksternal tingkah laku tertentu, tuntutan sosial atas peranannya.
Hal ini merupakan interaksi yang dinamik dari kekuatan internal dan lingkungan yang masing-masing berhubungan dengan interaksi sosial yang akhirnya menentukan nilai terakhir dari satu tingkah laku individu. Alternatif dipertimbangkan dan keputusan dibuat.
3.      Bandura
Karya yang sagat terkenal dari Bandura menempatkan suatu interpretasi yang lain pada interaksi seseorang dengan situasi. Bandura menghubungkannya dengan teori belajar sosial, suatu pendekatan yang melihat tingkah laku sebagai interaksi timbal balik yang terus menerus antara seseorang dan lingkungan.
Bandura melihat tingkah laku, faktor seseorang dan lingkungan lebih sebagai “faktor yang saling isi mengisi”, satu sama lain, daripada bahwa fungsi P dan E sebagai variabel sebab yang bebas dari tingkah laku. Pengaruh yang relatif dari setiap faktor bervariasi dalam situasi yang berbeda untuk tingkah laku tertentu, oleh karena itu dalam beberapa situasi faktor lingkungan lebih mempengaruhi, padahal dalam situasi lain seseorang mengatur kejadian-kejadian lingkungan.
Demikianlah, orang dapat “belajar” tingkah laku baru melalui ingatan yang diperoleh dari mengamati model-model peniruan yang ada. Bandura mengidentifikasikan 4 kategori pengaruh sebagai faktor yang menentukan hakikat dan akibat dari gejala peniruan :
1.      Kategori yang pertama ini melibatkan perhatian (attention), bagaimana kuatnya perangsang model itu diamati. Pengamatan yang selektif dari tingkah laku model tergantung pada faktor-faktor di mana seseorang berhubungan secara langsung, ketertarikan antar pribadi, nilai fungsional kondisi insentif dari tingkah laku model, cara pengamatan tertentu, kemampuan untuk memproses informasi serta kekompakan tingkah laku model.
2.      Kategori yang memusatkan pada kegiatan ingatan dari tingkah laku yang diamati.
3.      Komponen ini memusatkan bagaimana penyajian secara simbolik itu merubah tingkah laku. Faktor yang penting dalam proses ini adalah komponen skill.
4.      Kategori ini meliputi faktor motivasi dan penguatan. Orang dipengaruhi oleh tingkah laku yang diamati. Variable penguatan juga mempengaruhi tingkah laku seseorang.
4.      Rotter
Julian Rotter (1954) telah mengkombinasikan 2 (dua) kecenderungan di dalam psikologi, teori hubungan Stimulus – Respon (S – R) dan teori Cognitive atau Field Theory, untuk mengembangkan suatu teori belajar sosial dan kepribadian yang berbeda dengan Bandura.
Rotter berpendapat bahwa ada beberapa faktor yang menentukan tingkah laku seseorang. Ia berpendapat bahwa keadaan individu, kebutuhan, dan kebiasaan saling berinteraksi dengan apa yang individu terima di dalam lingkungan mereka. Ukuran situasi, dan cara individu menafsirkan mereka, merupakan sesuatu yang penting. Tidak setiap orang merespon dengan cara yang sama terhadap situasi yang sama.
Ada 3 (tiga) faktor di dalam lingkungan sosial yang mempengaruhi berbagai pilihan tingkah laku individu :
a.      Expextancy
b.      einforcement value
c.       Psychological situation
Expextancy adalah kemungkinan yang dilakukan individu yang akan terjadi dalam suatu penguatan tertentu sebagai fungsi dari tingkah laku dalam situasi tertentu. Tingkah laku dipengaruhi oleh tingkatan yang diharapkan seseorang yang akan membawa tingkah laku ke arah tujuan yang akan dicapai. Expectancy juga adalah suatu kemungkinan yang subyektif yang didasarkan pada pengalaman keberhasilan dan kegagalan yang lalu.
Reinforcement Value adalah tingkatan dalam menentukan perangsang yang lebih disukai yang mempengaruhi tingkah laku, dan ini tergantung pada “kebutuhan” individu, Satu reinforcement akan memiliki nilai yang lebih besar bila ia memuaskan kebutuhannya, baik yang bersifat phisiologis maupun psikologis.
Psychological situation menunjuk kepada lingkungan di mana individu itu membuat keputusan.
Dengan kata lain tingkah laku seseorang tergantung pada harapan yang diamati di mana tingkah laku tertemu akan membawa ke satu reinforcement pada suatu nilai di mana reinforcement memuaskan beberapa kebutuhan. Misalnya: Murid yang diberi tugas untuk melengkapi soal-soal yang diberikan. Mereka akan mengerjakan tugas itu dalam berbagai tingkah laku yang berbeda. Jika seseorang merasa tidak aman dan tidak disenangi di kelas itu maka situasi ini kurang membantu dalam memuaskan kebutuhannya, sehingga di dalam menyelesaikan tugas ini mungkin akan memiliki nilai reinforcement yang rendah.
5.      Mischel
Walter Mischel mengusulkan satu teori belajar sosial cognitive, satu pendekatan unit dasar studi yang bergeser dari individu ke kegiatan cognitive dan tingkah laku dalam hubungannya dengan situasi tertentu. Ia memadukan konsep-konsep dari cognitive dan Psikologi-Sosial ke konsep tingkah laku di dalam hubungannya dengan interaksi seseorang dengan situasi. Secara lebih khusus ia mengusulkan 5 kategori variabel seseorang yang membatasi bagaimana seseorang menerima dan mempersatukan perangsang di dalam lingkungan untuk membantu menerangkan tingkah laku :
1.      Kemampuan penyusunan : kecakapan menyusun (menghasilkan) cognisi dan tingkah laku tertentu. Ini berhubungan dengan : IQ, kompetisi dan kecakapan sosial, intelektual, perkembangan ego, ketrampilan dan kecakapan sosial intelektual. Ini nampak dalam perbedaan belajar yang mula-mula yang mempengaruhi kecakapan penerimaan seorang individu untuk melaksanakan respon yang diperlukan.
2.      Menyusun strategi dan membentuk pribadi : Ini merupakan bagian untuk mengkategorisasikan kejadian-kejadian serta untuk pernyatan diri. Ini melibatkan jangkauan proses informasi dan menekankan pentingnya transformasi cognitive pada stimulus, seperti misalnya perhatian yang selektif, interpretasi dan kategorisasi.
3.      Harapan hasil tingkah laku dan hasil stimulus di dalam situasi tertentu. Harapan seseorang yang bertingkah laku x kepada hasil y adalah inti pokok teori Mischel.
4.      Nilai stimulus yang subyektif : Motivasi dan timbulnya stimulus, insentif dan keengganan. Hal ini mempengaruhi tingkah laku melalui nilai yang diterima dari hasil respon yang tidak menentu.
5.      Sistem pengaturan diri dan perencanaan : Aturan-aturan dan kegiatan-kegiatan untuk kepentingan penampilan dan organisasi urutan tingkah laku yang kompleks. Sistem pengaturan diri ini didasarkan pada tujuan akhir, mengadakan urutan atas hal-hal yang disenangi, konsekuensi dari kemampuan dan kegagalan dalam mencapai tujuan, akan mempengaruhi keputusan seseorang.
Mischel mengakui bahwa kategori tersebut terbuka untuk ditambah dan diperbaiki. Setiap faktor akan berinteraksi dengan situasi untuk mempengaruhi tingkah laku. Meskipun tidak ada data empirik yang mendukung pandangan teori belajar sosial cognitive dalam interaksi seseorang dan situasi, Mischel menggambarkan beberapa implikasi yang menarik dan beralasan yang memiliki relevansi bagi murid dalam membuat keputusan di sekolah. Berdasarkan pada anggapannya bahwa lingkungan psikologi mempengaruhi tingkah laku. Akhirnya Michel menekankan perlunya studi tentang tingkah laku sebagai interaksi individu dengan keadaan di dalam lingkungan.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Ada 4 sikap mental yang perlu diusahakan oleh setiap mahasiswa yaitu mahasiswa harus mempunyai tujuan belajar, minat terhadap pelajaran, kepercayaan terhadap diri sendiri dan keuletan.
2.      Menurut pendapat tradisional, belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Disini yang dipentingkan pendidikan intelektual. Kepada anak-anak diberikan bermacam-macam mata pelajaran untuk menambah pengetahuan yang dimilikinya, terutama dengan jalan menghafal.
3.      Factor –faktor yang menyebabkan kesulitan dalam belajar terdiri dari factor Indogen dan faktoe Exogin. Factor Indogen meliputi : Faktor biologis (factor yang bersifat jasmaniah) dan factor Psychologis ( factor yang bersifat rohaniah). Sedangkan factor Exogen meliputi : Faktor lingkungan keluarga, factor lingkungan sekolah serta factor lingkungan masyarakat.

B.     Saran
Dalam kesempatan ini, penulis sangat mengharapkan saran, kritik atas kekurangan maupun kesalahan baik dari segi bahasa maupun pembahasannya. Maka dari itu penulis mengharapkan sekali kritik dan saran dari teman-teman maupun dan para pembaca agar dalam penukisan makalah selanjutnya dapat lebih baik.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dan semua pihak yang telah membantu penulisan makalah ini atas saran dan kritiknya.









DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu, 1991, Teknik Belajar Yang Efektif, Semarang: Rineka Cipta.
Walgito, Bimo.2002.PENGANTAR PSIKOLOGI UMUM.Yogyakarta:ANDI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar